Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam kitabnya Mâdhâ fî Sha‘bân memaparkan bagaimana para ulama terdahulu menjaga dan meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan memperbanyak amalan ibadah. 

Pada buku tersebut, tepatnya dalam sub bab I‘tinâ’ al-Salaf bi Laylat al-Nishf, Abuya menyampaikan bagaimana Ibnu Rajab bercerita tentang para tabi’in ahli Syam seperti Khalid bin Ma‘dan, Makul al-Hudzali, Lukman bin Amir dll mengagungkan dan meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan berkumpul secara berjamaah di masjid untuk sama-sama beribadah. Dari mereka inilah orang-orang selanjutnya ikut mengagungkan dan meramaikan malam Nisfu Sya’ban secara turun-temurun.

Namun kemudian hari disinyalir bahwa pengagungan malam Nisfu Sya’ban ini timbul akibat pengaruh israiliyat. Maka ketika hal ini tersebar di kalangan umat saat itu, timbullah perbedaan pendapat di antara mereka. Sebagian tetap setuju dan melanjutkan untuk mengagungkan dan memperbanyak ibadah di malam Nisfu Sya’ban secara berjamaah seperti para penduduk Ahli Basrah, sedangkan yang lain seperti ulama daerah Hijaz menolak dengan bersikap sebaliknya, seperti Atha’ bin Abi Rabah dan Ibnu Abi Mulaikah. 

Sebagaimana juga dinukil oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari para ulama ahli Madinah, di antara pendapat para pengikut Imam Malik bin Anas ra., pengagungan dengan memperbanyak amalan ibadah di malam Nisfu Sya’ban adalah bid’ah.

Bagi Abuya, pendapat yang menyatakan kebid’ahan pengagungan malam Nisfu Sya’ban dengan berkumpul di masjid untuk memperbanyak amalan ibadah memang tidak dapat dipungkiri. Hal ini bagian dari pendapat, pandangan, penelitian, dan ijtihad mereka untuk membid’ahkan. Demikian itu merupakan hak mereka untuk berpikir dan memilih. Selagi hal itu dilakukan dengan niat untuk menuju pada hal yang baik dan benar, maka tidak masalah.

Namun yang disayangkan oleh Abuya adalah bahwa mereka-mereka yang mengingkari atau membid’ahkan pengagungan malam Nisfu Sya’ban itu menutup atau menyimpan pendapat yang berlawanan dengan pandangan mereka, yang seakan-akan hanya pilihan pendapat atau pandangannya saja yang berhak diikuti sehingga mereka memperbanyak dalil-dalil memperkuat pandangan itu. Hal ini justru sebuah penipuan dan kebohongan sebab tidak menyampaikan ilmu atau pengetahuan apa adanya.

Silakan berpendapat, berlogika, dan berijtihad namun sebelum itu sampaikan dulu bagaimana perbedaan para ulama terdahulu secara komprehensif. Sesudah memaparkan perbedaan pendapat para ulama, barulah kita diperkenankan mengambil sikap dan menilai tentang pendapat mana yang kita pilih dengan argumen logika kita yang mapan.

Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Ibnu Rajab. Beliau memulai memaparkan bagaimana para ulama ahli Syam menyikapi pengagungan malam Nisfu Sya’ban. Kelompok pertama berpendapat bahwa merayakan Nisfu Sya’ban itu baik dilaksanakan secara berjamaah di masjid. Sedangkan kelompok kedua berpendapat bahwa makruh melaksanakan perayaan di masjid secara masif, namun tidak jika dilakukan secara mandiri. Lalu Ibnu Rajab mulai berlogika, mentarjih, dan mengambil pendapat yang ia yakini lebih dekat dengan kebenaran.

Metode demikian menurut Abuya telah banyak ditinggalkan oleh para pendakwah saat ini. Kebanyakan mereka sekarang lebih memilih menyampaikan satu pendapat yang ia ikuti dan menyalahkan atau mengingkari para ulama yang berseberangan dengan pendapat pilihannya tersebut tanpa lebih dulu memaparkan perbedaan itu secara menyeluruh. Padahal hal tersebut merupakan sebuah amanah ilmu yang semestinya disampaikan. Wa Allah A’lam.